Perseteruan terbaru antara Lewis Hamilton dan Charles Leclerc di GP Meksiko membuka kembali perdebatan tentang siapa yang sebenarnya menjadi ujung tombak Ferrari di Formula 1 musim 2026. Kedua pembalap ini sama-sama belum mampu mengambil alih dominasi secara mutlak di dalam tim, dan konflik mereka justru mengasah ketegangan yang semakin terasa.
Leclerc Belajar Mobil Baru yang Beda Banget
Sejak awal musim, Charles Leclerc sempat kesulitan dengan mobil Ferrari generasi 2026 yang punya aturan teknis baru. Meski ada kendala khusus terkait rem pada awal musim, yang akhirnya hanya sementara, Leclerc sering mengeluhkan mobil yang terasa kurang cocok dengan gaya balapnya. Hal ini karena mobil harus diatur agar mesin bekerja konsisten, terutama dalam pengaturan power unit yang kompleks sekarang, sehingga Leclerc harus mengubah cara mengemudinya dari yang biasanya intuitif jadi lebih teknikal.
Leclerc sendiri mengaku, “Mobil-mobil ini membuat kami melakukan hal-hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya dalam karier.” Ia menambahkan bahwa fleksibilitas dalam mengemudi adalah keuntungan untuk jangka panjang, walau tahun ini membuat dia harus akrab dengan cara-cara “aneh” yang belum tentu dia suka.
Pernah jadi yang tercepat adaptasi mobil sebelumnya, terutama ketika mengubah gaya pengereman yang sulit dipelajari Carlos Sainz, kini Leclerc masih berjuang menyesuaikan diri. Namun kepala tim Ferrari, Fred Vasseur, bilang Leclerc sudah menunjukkan kemajuan besar sepanjang musim.
Vasseur menuturkan, “Awalnya Leclerc terbiasa menambah tekanan saat kualifikasi Q3, tapi dengan regulasi baru itu nggak selalu berhasil. Dia berhasil pulih dengan cara memahami peraturan, mobil, dan cara agar bisa lebih cepat lewat set-up yang tepat.”
Hamilton: Dari Tahun Berat ke Tahun Berkembang
Sementara Leclerc masih proses adaptasi, Lewis Hamilton justru mulai naik daun di tahun keduanya bersama Ferrari setelah kesulitan besar di musim perdananya.
“Lewis mengalami masa berat, itu kata yang kecil buat situasinya,” jelas Vasseur. Meski sudah 20 tahun di F1, transisinya dari McLaren dan Mercedes ke Ferrari domain baru dengan kultur dan tim berbeda butuh proses panjang dan butuh adaptasi total hingga ke software dan komponen mobil yang benar-benar beda.
Menurut Vasseur, perbedaan ini membuat Hamilton sulit mengoptimalkan performa di 2025, sampai kehilangan beberapa persepuluh detik berharga tiap putaran. Contohnya saat di Budapest, Charles unggul satu persepuluh detik lebih cepat di Q2 tapi Lewis justru terpental ke P11. Vasseur menilai hal-hal detail seperti itu yang mengubah nasib balapan dan musim secara keseluruhan.
Walau begitu, Hamilton sudah menunjukkan perbaikan dan diperkirakan akan terus berkembang di musim berikutnya, membuat pertarungan internal Ferrari musim ini makin tajam.
Tabrakan Ambisi di Balik Persaingan
Kedua pembalap ini sekaligus masih mengasah kemampuan untuk tampil maksimal dengan mobil terbaru dan aturan baru, tapi juga berlomba untuk jadi pusat perhatian dan “pemimpin de facto” di tim. Dalam dunia F1, pemimpin tim yang sesungguhnya bukan soal kontrak atau pengakuan resmi, tapi siapa yang berhasil jadi yang terkuat di lintasan.
Tentu persaingan seperti ini bisa bikin suasana tim jadi rumit dan malah mengganggu konsentrasi tim secara keseluruhan. Tapi dari sisi penonton, duel mereka ini justru membuat pertarungan di dalam Ferrari terlihat seru dan penuh tensi, yang mungkin bakal berlanjut hingga musim 2027 nanti.
Jalan Panjang Menuju Supremasi Ferrari
Kisah Leclerc dan Hamilton di Ferrari musim ini ngasih gambaran menarik soal gimana dua pembalap besar saling kejar dan beradaptasi dengan mobil 2026. Leclerc yang sempat kesulitan tapi mulai bangkit, dan Hamilton yang lagi membangun kepercayaan diri setelah tahun pertama penuh tantangan, bikin kita penasaran siapa yang akhirnya bakal pegang tongkat estafet di Ferrari. Musim ini dan musim depan kelihatannya masih jadi ajang adu strategi dan mental di dalam tim merah itu.






