Esteban Ocon, yang pernah jadi bagian program pembinaan Mercedes, kini menghadapi titik kritis dalam kariernya di Formula 1. Setelah kehilangan kursi di Force India, Mercedes memberi dia peran sebagai pembalap cadangan pada 2019. Namun, kesempatan melaju di tim utama tidak kunjung datang.
Kenapa Mercedes Pilih George Russell?
Meski sempat dipertimbangkan untuk menggantikan Valtteri Bottas sebagai partner Lewis Hamilton, Toto Wolff, bos tim Mercedes, memutuskan untuk mempertahankan Bottas karena khawatir karakter Ocon dan Hamilton bakal bentrok. Selain itu, performa gemilang George Russell di Williams membuat Mercedes yakin bahwa Russell-lah pembalap masa depan mereka, bukan Ocon.
Dukungan Mercedes dan Momen Emas di Alpine
Mercedes tetap mendukung Ocon dengan membantunya kembali ke grid melalui kursi di Renault pada 2020, yang kemudian bertransformasi menjadi Alpine pada 2021. Di tim ini, Ocon meraih momen puncak kariernya saat meraih satu-satunya kemenangan di GP Hungaria 2021.
Kemenangan tersebut banyak dipengaruhi oleh keberuntungan. Lomba berlangsung di kondisi trek basah dan terjadi tabrakan besar yang menyingkirkan beberapa pembalap kunci seperti Bottas dan Red Bull. Ocon keluar dari kekacauan itu di posisi kedua di belakang Hamilton, dan balapan sempat dihentikan sementara.
Setelah restart, kondisi lintasan mengering sehingga Ocon memutuskan menggunakan ban slick kering, sementara Hamilton memilih bertahan dengan ban basah. Strategi ini akhirnya membuat Hamilton harus pit stop lebih cepat dan terpental ke belakang, memberi Ocon posisi terdepan yang bertahan hingga garis finis.
Peran Krusial Alonso dalam Kemenangan Ocon
Yang menarik, pada akhirnya Hamilton sempat membalas dengan kecepatan yang jauh lebih baik dan berhasil memperpendek jarak dengan Ocon. Namun, Fernando Alonso, rekan satu tim Ocon, yang juga dua kali juara dunia dan baru kembali ke F1 bersama Alpine setelah vakum dua tahun, berperan vital dalam menghambat laju Hamilton selama 10 lap terakhir.
Alonso tahu kemenangan itu penting bagi Alpine, yang terakhir kali menang ketika masih bernama Lotus pada 2013 dan sebelum itu terakhir menang di F1 pada GP Jepang 2008. Dengan skil dan pengalaman yang dimilikinya, Alonso berhasil mempertahankan posisinya dan menghalangi Hamilton sampai hanya tersisa sedikit lap sebelum bendera finish.
Ketika Hamilton akhirnya bisa melewati Alonso, waktu sudah mepet dan mantan juara dunia asal Inggris itu hanya mampu naik ke posisi ketiga, sementara Ocon finis pertama. Setelah balapan, Ocon dan Alonso merayakan kemenangan bersama tim.
Hubungan yang Memanas dan Kemungkinan Akhir Karier Ocon
Tapi hubungan antara Ocon dan Alonso tak bertahan baik terlalu lama. Hanya setahun setelah momen manis itu, mereka terlibat insiden di GP Brasil 2022. Saat itu, Alonso yang akan pindah ke Aston Martin, menyebut Ocon dengan nada sarkastik sebagai “teman kita” lewat radio tim.
Ketika ditanya apakah dia bakal membicarakan insiden itu dengan Ocon, Alonso hanya berkata singkat, “Saya tidak perlu. Satu balapan lagi, lalu semuanya selesai.”
Situasi ini memberi bayangan bahwa masa depan Ocon di F1 makin gelap. Kini setelah keluar dari Haas, mencari celah untuk kembali ke grid bukan perkara gampang.
Kesan dari Panggung Balap
Kisah Ocon di Alpine dan Mercedes nunjukin kalau dukungan besar sekalipun nggak selalu cukup kalau chemistry pembalap sama tim nggak nyambung. Kemenangan Hungaria 2021 jadi bukti bahwa keberuntungan dan kerja sama tim sangat menentukan. Namun, dengan situasi terakhir, kelihatan Ocon harus lebih keras cari peluang baru untuk bertahan di F1.






