Lewis Hamilton, Carlos Sainz, dan Max Verstappen punya pandangan yang berbeda soal Circuit of the Americas (COTA) di Austin, Texas. Hamilton bilang COTA adalah salah satu sirkuit terbaik di dunia olahraga, Sainz menyebutnya sebagai contoh sempurna untuk trek Formula 1 modern, sementara Verstappen malah bilang bos COTA mungkin bakal kesulitan jalan kalau harus muter lima lap di sirkuit ini karena guncangan yang parah.
Keanekaragaman pendapat ini mencerminkan kenyataan bahwa meski COTA sukses dan jadi salah satu penyelenggara F1 terbesar, trek ini memang punya tantangan tersendiri, terutama soal permukaan lintasan yang bergelombang. Setelah 14 tahun Formula 1 hadir di Texas, Grand Prix Amerika Serikat tetap jadi acara yang digemari banyak orang, dengan catatan kehadiran penonton pada akhir pekan balap tahun ini mencapai rekor 467.000 orang. Uniknya, Bobby Epstein, bos COTA, yakin sirkuit ini masih mampu menampung jumlah penonton yang lebih banyak tanpa kesulitan berarti.
COTA: Penyuka dan Pengkritik
Meskipun F1 sekarang makin populer lewat sirkuit-sirkuit baru seperti Miami dan Las Vegas, reputasi Austin sebagai favorit penggemar dan pembalap tetap kokoh. Daya tarik utama COTA itu sederhana: sirkuit yang benar-benar dirancang untuk balapan, penonton yang sangat banyak, serta suasana festival yang terasa jauh dari sekadar balapan di aspal.
Namun, seperti halnya balapan F1 yang terus berkembang, event di COTA juga harus menghadapi tantangan besar: bagaimana menikmati lonjakan bisnis dari pertumbuhan olahraga ini tanpa mengorbankan hal-hal yang bikin COTA spesial.
Epstein mengungkap kalau mereka sebenarnya sudah berhenti menjual tiket karena keterbatasan akses jalan menuju sirkuit, yang baru akan diperlebar dalam dua tahun ke depan. Ia yakin setelah perluasan jalan, jumlah penonton bisa menembus setengah juta orang dalam satu akhir pekan.
Dia juga bilang bahwa masalah utama bukan di dalam sirkuit, melainkan di “last mile” yakni jarak terakhir menuju venue yang sering macet berat sampai 3-5 jam menunggu. Dengan menghentikan penjualan tiket, mereka bertujuan menjaga pengalaman penggemar, mulai dari perjalanan sampai penonton pulang.
Gondola Mewah dan Suasana Baru di Tikungan 1
Salah satu hal baru yang jadi perhatian semua orang tahun ini adalah bangunan baru besar di Tikungan 1 yang dilengkapi dengan enam gondola ski – semacam kereta gantung – yang mengangkut tamu VIP dari paddock ke atas bangunan dan kembali ke bawah melewati tikungan ini.
Bangunan ini punya fasilitas kolam renang di atapnya, memungkinkan para tamu elit menonton balapan sambil berendam, plus ada area hospitality khusus dan pemandangan hampir 360 derajat ke sirkuit.
Bagi sebagian fans, ini adalah simbol kenapa F1 semakin terlihat didominasi akses eksklusif untuk orang-orang kaya dan perusahaan besar. Tapi dari sudut pandang Lewis Hamilton, bangunan ini justru jadi tambahan keren yang tak merusak daya tarik COTA.
“Satu-satunya yang hilang adalah pemandangan langit biru sebelum sampai Tikungan 1,” kata Hamilton. “Tapi bendera Amerika tetap ada. Banyak orang terlalu cepat mengkritik tanpa melihat sisi positifnya. Bangunan ini luar biasa, gondolanya juga keren. Apa yang sudah dikerjakan Bobby dan timnya, dari fasilitas sampai akses masuk, sangat rapi dan terorganisir.”
Oscar Piastri dari McLaren juga mengaku hanya sedikit terkejut saat pertama lewat di bawah gondola tapi cepat terbiasa dan merasa bangunan itu menambah atmosfer di sirkuit.
Epstein sendiri mengakui bahwa pembangunan fasilitas baru ini memang bagian dari kesepakatan kontrak COTA yang baru diperpanjang sampai 2034 – kontrak terpanjang yang pernah mereka dapatkan – sebagai bentuk investasi jangka panjang dari F1.
COTA: Sirkuit Favorit dengan Rintangan Guncangan
Kendati baru berusia sekitar sebelas tahun, COTA sudah dianggap sebagai salah satu favorit banyak pembalap. Carlos Sainz menyebutnya sirkuit modern yang paling seru dan berbeda dari yang lain, berkat desain yang asyik untuk overtaking dan karakter “rollercoaster”-nya yang menantang. Meski bukan sirkuit klasik, COTA tetap punya nuansa yang mirip dengan trek-trek tua yang disukai pembalap.
Namun, masalah permukaan bergelombang di beberapa bagian trek tetap jadi bahan cerita. Max Verstappen bahkan mengatakan dia butuh “tulang belakang baru” buat bertahan di trek ini karena guncangannya yang berat. Ia juga sudah menjalani rontgen yang menunjukkan adanya kerusakan pada tulang belakangnya akibat getaran lintasan.
Ketika Bos COTA Bobby Epstein bilang bahwa hanya Tikungan 1 saja yang bermasalah, Verstappen menantangnya untuk mencoba mobilnya sendiri.
“Saya yakin setelah lima lap, dia bakal kesulitan bahkan untuk berjalan,” ujar Verstappen kepada media Belanda usai kualifikasi Sabtu yang membuatnya start dari posisi kedua.
Namun, tak semua pembalap setuju dengan keluhan Verstappen. Lewis Hamilton yang berusia 42 tahun bilang,”Saya masih oke-oke saja kok soal punggung. Iya memang ada guncangan, tapi itu bikin karakter trek lebih menarik. Mobil jadi lebih hidup dan kamu harus kerja keras mengendalikan mobil. Kalau trek rata banget kayak layaknya sirkuit sempurna, saya rasa malah bakal kurang greget. Bumps itu memberikan warna tersendiri buat COTA, selain memang layout-nya sudah bagus banget.”
Sudut Pandang Saya
COTA memang bukti kalau sirkuit modern bisa jadi pusat perhatian dan sukses besar sekaligus punya tantangan seperti guncangan lintasan dan akses jalan. Bangunan baru di Tikungan 1 tampak jadi langkah maju memperkuat dana dan eksklusivitas, tapi tak menghilangkan daya tarik utama sirkuit yang telah lama diakui pembalap. Seru lihat bagaimana pendapat kontra soal permukaan trek akan terus jadi pembicaraan, terutama soal betapa beratnya COTA buat punggung pembalap top kayak Verstappen.






