Kimi Antonelli berhasil mencetak sejarah sebagai Juara Dunia Formula 1 termuda sepanjang masa, mengamankan gelar perdananya di musim kedua kariernya. Tapi pencapaian ini bukan satu-satunya rekor yang ia pecahkan selama perjalanan menuju mahkota juara tersebut.
F1.com merangkum sejumlah catatan bersejarah yang diraih Antonelli dalam kampanye luar biasa di musim 2026 ini.
Antonelli: Pole Position Termuda dan Langkah Awal ke Puncak
Hanya dua balapan setelah membuka musim, Antonelli mencuri perhatian dengan mendapatkan posisi pole pertamanya di Grand Prix China. Sebelumnya, ia pernah meraih posisi pertama di Sprint Qualifying di Miami pada 2025, tapi ini adalah pole position perdananya pada balapan utama.
Pada usia 19 tahun, enam bulan, dan 18 hari, pembalap Mercedes ini jadi polesitter termuda dalam sejarah F1, mengalahkan rekor Sebastian Vettel yang dulu meraih pole pertama di usia 21 pada GP Italia 2008.
Kemenangan dari Pole dan Kepemimpinan di Championship
Di GP China, meski George Russell memenangi sprint terlebih dahulu, Antonelli tampil meyakinkan pada hari Minggu untuk jadi pemenang dari posisi pole. Dengan begitu, ia jadi pembalap termuda yang menang dari pole position, sementara rekor juara termuda secara keseluruhan masih dipegang Max Verstappen ketika berusia 18 tahun.
Dua minggu setelahnya di GP Jepang, Antonelli kembali menang dan berhasil naik ke puncak klasemen juara dunia, memecahkan rekor lagi sebagai pembalap termuda yang memimpin championship pada usia 19 tahun, tujuh bulan, dan empat hari. Rekor Lewis Hamilton yang dulu pegang saat berusia 22 tahun pun harus tergusur.
Kemenangan Beruntun Hingga Rekor Grand Slam
Antonelli melanjutkan dominasinya dengan kemenangan di tiga balapan pertama dari pole position, termasuk di Miami, yang menjadikannya satu-satunya pembalap dalam sejarah yang menang dari tiga pole position perdana secara beruntun.
Musimnya semakin sempurna dengan lima kemenangan beruntun, termasuk tes jago di Monaco. Dalam balapan legendaris itu, ia jadi pemenang termuda GP Monaco yang terkenal dengan trek sempit dan tikungan sulit.
Lebih dari itu, Antonelli juga mencatat sejarah dengan jadi pembalap termuda yang meraih Grand Slam—start dari pole, fastest lap, memimpin dari awal sampai akhir lomba, lalu menang pada satu akhir pekan balapan. Ini terjadi saat dia menguasai ajang Monaco.
Gelombang Kebanggaan Italia di Tengah Panggung Dunia
Antonelli makin menambah kebahagiaan dengan memenangkan GP Italia, kemenangan ketujuh musim ini yang juga jadi momen penting saat ia bangkit dari posisi bawah grid dan menghibur para penggemar lokalnya.
Dia menjadi orang Italia pertama yang menang di balapan kandang sejak Ludovico Scarfiotti pada 1966. Selain itu, Antonelli juga memecahkan puasa gelar juara dunia Italia yang telah berlangsung selama 73 tahun, menjadi juara dunia ketiga dari Italia setelah Giuseppe ‘Nino’ Farina (1950) dan Alberto Ascari (1952 & 1953).
Juara Dunia Termuda dan Generasi Baru
Dari semua rekor yang dipegangnya, yang paling ramai dibicarakan pastinya adalah statusnya sebagai Juara Dunia Formula 1 termuda dalam sejarah. Rekor ini sebelumnya dipegang Sebastian Vettel yang menjuarai di usia 23 tahun, empat bulan, dan 11 hari pada 2010 bersama Red Bull.
Antonelli juga menjadi pembalap pertama yang lahir di tahun 2000-an, tepatnya 2006, yang meraih gelar juara dunia, melanjutkan tradisi generasi baru yang sebelumnya didominasi pembalap tahun 1990-an seperti Verstappen dan Norris.
Tanggapan Singkat
Antonelli benar-benar membawa angin segar buat F1 dengan rekor-rekor luar biasa ini, terutama di trek berkelas seperti Monaco dan Monza. Performa konsistennya di musim kedua ini bikin penasaran gimana dia bakal merespons tekanan juara dunia muda seperti ini.






